Waktu itu ketika gadis ini tak mengerti keajaiban cinta



Bintang Senja yang Kembali 


            “Ma, aku berangkat les dulu ya,” kata Hana kepada mamanya yang sibuk menjahit. “Iya sayang, belajar yang rajin ya,” ucap Mama sembari membelai lembut rambut malaikat kecilnya itu. Lalu diantarkan Hana menuju pintu, Hana pun mencium tangan ibunya. Setelah itu dengan penuh semangat ia berlari menuju mobil yang siap mengantarnya ke tempat les.
            Beberapa detik kemudian mobil mulai melaju, tangan kecil Hana melambaikan tangan kepada Mama diikuti senyum manis yang mengembang dari bibir mungilnya. Selama perjalanan Hana tak bisa berhenti, ia terus berceloteh dengan Pak Sopir, sesekali terdengar tawanya, sesekali terdengar alunan lagu dari mulutnya. Ia sangat senang sore ini, karena ini adalah pertama kalinya ia akan belajar di Lembaga Bimbingan Belajar yang jauh dari rumahnya. Ia tak sabar menunggu bagaimana suasana tempat les itu. Ini akan menjadi pengalaman pertamanya.
            “Terima kasih pak!” seru Hana pada Pak Sopir sembari menutup pintu mobil. Lalu ia berlari memasuki gerbang tempat bimbingan belajar. Namun ketika dia sampai di depan pintu, langkahnya terhenti. Hatinya deg-degan membayangkan bagaimana suasana di dalam sana, apakah menyenangkan seperti yang ia bayangkan? Ataukah sebaliknya? Ada sedikit rasa keraguan dalam hatinya.
            “Hei, kenapa kamu berdiri di depan sini?” ucap sebuah suara pada Hana. Demi mendengar suara itu, Hana terkejut. Ia langsung menoleh ke asal suara itu, ia berbalik badan. Ia melihat seorang anak laki-laki yang sedang menyandang tas tengah berdiri dan memandangnya. “Eh, anu, saya mau les di sini,” ucap Hana terbata-bata. Ia ketakutan. “Oh mau les di sini. Kenapa nggak masuk?” tanya anak itu. “Saya malu,” ucap Hana sambil menunduk. “Kenapa malu? Eh, kamu anak baru ya? Kenalin aku Riko. Namamu siapa?” seru anak itu yang ternyata bernama Riko. “Aku Hana,” jawab Hana lirih. “Oke Hana, ayo masuk!” seru Riko sambil menarik tangan Hana dan diantarkannya Hana menemui gurunya.
            Dari awal pertemuan itulah, Hana dan Riko mulai akrab. Meskipun Riko tingkat kelasnya lebih tinggi satu tahun daripada Hana, ruang lesnya jadi satu. Sehingga mereka semakin dekat. Terlebih Hana sedikit tomboy, hal itu membuat Hana lebih sering bermain dengan Riko daripada dengan teman-teman yang lain. Hampir setiap hari sepulang les Hana bermain di rumah Riko yang jaraknya berdekatan dengan tempat les. Riko mempunyai banyak koleksi mainan lego, Hana sangat suka menemani Riko bermain lego selama ia menunggu mobil jemputan datang. Sebab, mobil jemputan baru datang satu jam setelah les berakhir. Mereka senang membuat kontruksi bangunan rumah bersama.
            “Udah jam 5 nih, bentar lagi mobilnya pasti datang,” ucap Hana pada Riko yang tengah asyik menyatukan lego. Riko menoleh ke arah jendela, melihat ke jalan depan rumahnya. “Nggak ada apa-apa tuh, belum datang mungkin,” ucap Riko. “Hm, mungkin bentar lagi. Lebih baik aku nunggu di depan aja, makasih ya Kak Riko udah mengajak aku main,” ucap Hana. “Oh iya, sama-sama Hana. Makasih juga mau nemenin aku main” jawab Riko sambil tersenyum.
            Sudah satu jam lebih Hana menunggu mobil jemputan. Namun mobil itu tak muncul juga. Hana mulai lelah, dia kebingungan dan rasanya ia ingin menangis. Suasana mulai berubah menjadi semakin gelap. Tak mungkin baginya kembali ke rumah Riko. Bapak yang biasanya membantu menyeberang jalan sudah tidak ada. Ia tak berani menyeberang jalan sendirian. Namun samar-samar di dalam rumah terlihat seorang anak kecil sedang berdiri di depan jendela. Matanya awas mengamati keadaan di luar. Ya, anak kecil itu adalah Riko, diam-diam ia mengawasi Hana dari dalam rumah. Ia begitu malu untuk memanggil Hana kembali ke rumahnya. Ia hanya diam menjaga Hana dari jauh. Namun Hana sama sekali tak menyadari hal itu. Dia tak mengetahui bahwa Riko mengawasinya.
            Bertahun-tahun sudah persahabatan antara Hana dan Riko terjalin. Namun ketika Riko masuk kelas 6 SD, ia pindah ke bimbingan belajar yang lebih besar guna mempersiapkan diri menghadapi UN dan pendaftaran SMP. Sejak saat itu pula, Hana tak pernah bertemu Riko. Mereka tak pernah berkomunikasi, bahkan Hana sudah lupa dengan teman masa kecilnya itu. Riko hilang bagai ditelan bumi.
            Empat tahun berlalu, kini Hana sudah duduk di kelas 3 SMP. Hana berubah menjadi gadis yang cantik dan periang. Namun tetap sedikit tomboy, hal itu bisa diketahui dari banyaknya teman laki-laki yang biasanya di sekitar Hana. Hana bergabung di banyak komunitas yang membuatnya mempunyai banyak teman. Meskipun teman-temannya mayoritas laki-laki namun Hana tidak pernah kehilangan sisi wanitanya. Dia bisa berteman dekat dengan teman laki-laki dan tetap menjaga batas antara laki-laki dan perempuan.
            Sore ini Hana pulang agak sore, ada tugas kelompok yang harus dia kerjakan. Saat ia berjalan menuju gerbang, ia bertemu dengan temannya. Rupanya temannya sedang diantar teman laki-lakinya. Dia menyapa temannya, dan sekilas dilihatnya laki-laki yang berjalan di samping temannya itu. Laki-laki itu menatapnya tajam. Dari seragamnya, sepertinya dia sekolah di SMA terdekat dari sekolahnya. Tapi tunggu dulu, sepertinya wajahnya tidak asing, sepertinya Hana pernah melihat anak itu. Namun Hana lupa kapan di mana tepatnya ia bertemu dengan anak itu, dan dia juga tidak memperdulikan hal itu. Mungkin hanya perasaannya saja, bukankah di dunia ini ada 7 orang yang wajahnya mirip?
            “Klunting-klunting” suara nada dering BlackBerry milik Hana menandakan ada pesan BBM yang masuk. Hana segera mengambil BlackBerry miliknya, terlihat di layar HP itu seseorang mengundangnya untuk menjadi temannya. Lalu tangan Hana pun menekan tombol di HP itu, dia telah menerima pertemanannya. Dilihatnya foto pemilik akun BBM itu, ternyata anak yang kemarin dia lihat di depan gerbang tengah bersama temannya. Yeriko Hermawan, nama anak itu. Hana benar-benar merasa pernah melihatnya jauh sebelum pertemuan tadi siang di sekolah. Tapi Hana tidak ingat sama sekali, dan dengan cepat ia melupakan hal itu.
            HP-nya berbunyi sekali lagi, terlihat pesan BBM dari laki-laki itu. Pesan broadcast lebih tepatnya, isi pesannya adalah “Bagi yang belum tidur, PING!!!” Namun Hana mengabaikannya. Setiap malam anak itu mengirim pesan broadcast yang sama. Membuat Hana menjadi ingin membalasnya. Lalu dibalasnya pesan itu “PING!!!” isi pesan Hana. Beberapa detik kemudian terlihat balasan dari anak itu. Akhirnya mereka rajin berkirim pesan setiap hari. Hana mulai penasaran siapa sebenarnya anak itu, karena semakin lama dia semakin merasa sudah lama mengenal anak itu sebelumnya. Dia mulai mencari-cari informasi tentang anak itu. Dan dari keterangan temannya, ia tahu kalau Yeriko kemugkinan adalah teman masa kecilnya.
            “Kakak dulu alumni SMP Negeri 2 ya?” Hana menekan tombol enter, dia mengirimkan pesan itu kepada Yeriko. “Iya, kamu kok tau?” pesan dari Yeriko ia terima. “Kakak biasanya dipanggil siapa sih?” Hana membalas pesan itu. “Aku dipanggil Riko dik,” kata Yeriko melalui pesan yang dikirimnya. “Oh jadi kakak yang dulu waktu SD les di Mutiara Ilmu bukan? Kakak masa lupa sama aku?” tanya Hana pada Yeriko. “Ya enggak lah dik, wajahmu masih sama seperti dulu. Waktu aku ketemu kamu, aku langsung ingat. Lalu aku cari info tentang kamu dan aku dapat pin BB-mu dari temanmu. Aku sengaja mengirim pesan broadcast cuma buat kamu supaya bisa ngobrol sama kamu. Aku udah lama cari kamu dik, eh ternyata akhirnya ketemu juga. Kamu masih ingat aku ternyata,” kata Riko panjang lebar. Demi membaca pesan itu, Hana jadi salah tingkah. Dia senyum-senyum sendiri persis seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapat hadiah boneka beruang sebesar gajah.
            Ketika tanggal 10 Oktober, Riko mengutarakan perasaannya pada Hana. Ternyata Riko sudah mempunyai perasaan suka pada Hana sejak pertama dia melihat Hana yang grogi di depan pintu ruang les. Lalu hari itu juga, 10 Oktober mereka resmi berpacaran. Keesokan harinya mereka bertemu di sebuah cafe, mereka menghabiskan banyak waktu hanya berdua. Banyak obrolan yang mereka bahas. Mereka seperti mengadakan reuni namun dalam nuansa asmara. Hari itu benar-benar hari yang paling istimewa bagi Riko, telah bertahun-tahun dia memendam rasa pada bidadari kecil yang bernama Hana. Rasanya seperti mimpi, bisa bertemu kembali dengan Hana yang sekarang tengah duduk di hadapannya, dan tersenyum padanya. Dia benar-benar telah menjadi gadis dewasa yang cantik. Sang Maha Cinta benar-benar mengabulkan do’anya untuk bertemu dengan Hana sekali lagi.
Terima kasih Tuhan, kau telah mempertemukanku dengan Bintang Senjaku ini sekali lagi. Aku akan menjaganya, agar aku bisa tetap melihat keindahan sinarnya sampai aku mati. Takkan ku biarkan ia pergi. Karenanya, hidupku menjadi lebih berarti,” gumam Riko dalam hati. Kini Bintang Senja itu telah menjadi miliknya.

oleh YUSNIA WAHYU ANDINI 
@Yusnia_WA

Komentar

Postingan populer dari blog ini